Home » Info Nasa » Sukses Budidaya Wortel

Sukses Budidaya Wortel

Wortel dikenal sebagai sumber vitamin A, selain itu wortel juga mengandung banyak vitamin B dan vitamin C. Budidaya wortel paling cocok dilakukan di dataran tinggi dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter dpl. Akan tetapi, budidaya wortel masih bisa dilakukan di lahan di atas 500 meter dpl. Tanaman wortel cocok di tanah yang mengandung banyak humus dan gembur dengan tingkat keasaman antara pH 5,5-6,5.

1. Persiapan lahan

Lahan untuk budidaya wortel harus dibajak atau dicangkul dengan kedalaman kurang lebih 40 cm. Kedalaman ini sangat penting karena tanaman wortel akan dipanen umbinya. Tanah yang gembur memberikan keleluasaan pada umbi untuk tumbuh dengan sempurna. Sedangkan, apabila struktur tanah keras akan menghambat pertumbuhan umbi. Bentuk umbi akan menjadi pendek-pendek dan tumbuh cabang pada badan umbi.

Setelah tanah digemburkan, buat bedengan dengan lebar satu meter dan panjang disesuaikan dengan bentuk lahan. Ketinggian bedengan sekitar 20-30 cm. Saat membentuk bedengan, campurkan pupuk SUPERNASA sebagai pupuk dasar. Dosis pemberian pupuk SUPERNASA sebanyak 3 kg per hektar, untuk lebih tepatnya sesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah.

Buat larikan pada permukaan bedengan untuk menaburkan benih. Jarak antar larikan 20 cm dengan kedalaman sekitar 5 cm.

2. Penanaman benih wortel

Penanaman benih dalam budidaya wortel bisa dilakukan secara langsung, tanpa tahap penyemaian terlebih dahulu. Kebutuhan benih untuk budidaya wortel kurang lebih sebanyak 3-5 kg per hektar. Benih wortel berasal dari biji, bentuknya kecil-kecil, dan cenderung menempel karena mempunyai serabut seperti bulu pada permukaannya. Sebelum ditaburkan, gosok-gosok terlebih dahulu dengan telapak tangan agar benih tidak saling menempel atau campurkan abu pada benih tersebut. Taburkan benih di atas larikan kemudian tutup dengan tanah. Siram dengan sedikit air untuk menjaga kelembapannya apabali tanahnya kering. Tanaman wortel akan tumbuh setelah 10 hari.

3. Pemeliharaan tanaman wortel

Pemupukan susulan diberikan setelah tanaman berumur satu bulan. Untuk budidaya wortel secara organik, gunakan pupuk organik NASA, atau bisa juga menggunakan pupuk cair organik NASA. Pupuk SUPERNASA ditaburkan dipermukaan bedengan sekitar tanaman dengan dosis 3 kg per hektar. Untuk pemupukan produk organik cair Nasa nya maka semprotkan POC NASA dan HORMONIK, dengan dosis 3 tutup POC NASA dan 1 tutup HORMONIK per tangki 12 – 15 liter air. Semprotkan 3x dalam 1 musim.

Untuk budidaya wortel non organik, gunakan campuran pupuk urea dan KCl dengan perbandingan 2:1 sebanyak 300 kg per hektar. Pemberian pupuk ditaburkan dalam bentuk alur yang berjarak 5 cm dari pangkal tanaman.

Selain pemupukan lakukan juga penyiangan gulma dan penjarangan tanaman. Agar pertumbuhan umbinya sempurna, atur penjarangan tanaman sehingga jarak antara satu tanaman dengan yang lainnya berkisar 5-10 cm.

4. Hama dan penyakit

Hama yang sering dijumpai dalam budidaya wortel adalah ulat tanah dan kutu daun. Ulat tanah bisa diberantas dengan cara mencari sarangnya, kemudian dibasmi secara langsung. Lakukanlah pada pagi hari. Bila serangan mengganas, bisa menggunakan pestisida jenis Furadan. Sedangkan, hama kutu daun menyerang pucuk daun dengan menghisap cairan dan merusak bentuk daun menjadi keriting. Cara mengendalikan kutu daun dengan melakukan rotasi tanaman agar siklus hidupnya terputus. Penyemprotan bisa menggunakan produk NASA yaitu PENTANA dengan dosis 5 tutup per tangki.

Sedangkan penyakit yang sering menyerang budidaya wortel adalah bercak daun dan bintil akar. Penyakit ini menyerang daun tua, gejalanya berupa bercak-bercak coklat dengan pinggiran hitam. Anda bisa mengendalikannya dengan memilih benih yang sehat atau benih diberi larutan fungisida terlebih dahulu. Sedangkan penyakit bintil akar gejalanya adalah bentuk umbi benjol-benjol tak karuan. Pencegahan bisa dilakukan dengan rotasi tanaman. Gilir tanaman dengan jenis lain yang berbeda keluarga. Penyemprotan kimia menggunakan nematisida.

5. Pemanenan

Pemanenan bisa dilakukan setelah 3 bulan sejak benih ditanam. Waktu pemanenan harus benar-benar diperhatikan. Jika umur tanaman terlalu tua tekstur umbi menjadi keras dan rasanya tidak enak. Cara memanen dilakukan dengan dicabut. Kemudian cuci atau bersihkan kotoran tanah yang menempel pada umbi dengan air bersih.

Selamat mencoba!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *